Fasal tentang Bid'ah (1)
23/02/2007
Dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah karya Hadratusy Syeikh Hasyim Asy’ari, istilah "bid’ah" ini disandingkan dengan istilah "sunnah". Seperti dikutip Hadratusy Syeikh, menurut Syaikh Zaruq dalam kitab ‘Uddatul Murid, kata bid’ah secara syara’ adalah munculnya perkara baru dalam agama yang kemudian mirip dengan bagian ajaran agama itu, padahal bukan bagian darinya, baik formal maupun hakekatnya. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW,” Barangsiapa memunculkan perkara baru dalam urusan kami (agama) yang tidak merupakan bagian dari agama itu, maka perkara tersebut tertolak”. Nabi juga bersabda,”Setiap perkara baru adalah bid’ah”.
Menurut para ulama’, kedua hadits ini tidak berarti bahwa semua perkara yang baru dalam urusan agama tergolong bidah, karena mungkin saja ada perkara baru dalam urusan agama, namun masih sesuai dengan ruh syari’ah atau salah satu cabangnya (furu’).
Bid’ah dalam arti lainnya adalah sesuatu yang baru yang tidak ada sebelumnya, sebagaimana firman Allah S.W.T.:
بَدِيْعُ السَّموتِ وَاْلاَرْضِ
“Allah yang menciptakan langit dan bumi”. (Al-Baqarah 2: 117).
Adapun bid’ah dalam hukum Islam ialah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulama’ yang tidak ada pada zaman Nabi SAW. Timbul suatu pertanyaan, Apakah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulama’ yang tidak ada pada zaman Nabi SAW. pasti jeleknya? Jawaban yang benar, belum tentu! Ada dua kemungkinan; mungkin jelek dan mungkin baik. Kapan bid’ah itu baik dan kapan bid’ah itu jelek? Menurut Imam Syafi’i, sebagai berikut;
اَلْبِدْعَةُ ِبدْعَتَانِ : مَحْمُوْدَةٌ وَمَذْمُوْمَةٌ, فَمَاوَافَقَ السُّنَّةَ مَحْمُوْدَةٌ وَمَاخَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُوْمَةٌ
“Bid’ah ada dua, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela, bid’ah yang sesuai dengan sunnah itulah yang terpuji dan bid’ah yang bertentangan dengan sunnah itulah yang tercela”.
Sayyidina Umar Ibnul Khattab, setelah mengadakan shalat Tarawih berjama’ah dengan dua puluh raka’at yang diimami oleh sahabat Ubai bin Ka’ab beliau berkata :
نِعْمَتِ اْلبِدْعَةُ هذِهِ
“Sebagus bid’ah itu ialah ini”.
Bolehkah kita mengadakan Bid’ah? Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita kembali kepada hadits Nabi SAW. yang menjelaskan adanya Bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah.
مَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِئَةً فَعَلَيْهِ وِزْرُهَاوَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِاَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا. القائى, ج: 5ص: 76.
“Barang siapa yang mengada-adakan satu cara yang baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan tidak mengurangi dari pahala mereka sedikit pun, dan barang siapa yang mengada-adakan suatu cara yang jelek maka ia akan mendapat dosa dan dosa-dosa orang yang ikut mengerjakan dengan tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun”.
Apakah yang dimaksud dengan segala bid’ah itu sesat dan segala kesesatan itu masuk neraka?
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ
“Semua bid’ah itu sesat dan semua kesesatan itu di neraka”.
Mari kita pahami menurut Ilmu Balaghah. Setiap benda pasti mempunyai sifat, tidak mungkin ada benda yang tidak bersifat, sifat itu bisa bertentangan seperti baik dan buruk, panjang dan pendek, gemuk dan kurus. Mustahil ada benda dalam satu waktu dan satu tempat mempunyai dua sifat yang bertentangan, kalau dikatakan benda itu baik mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan jelek; kalau dikatakan si A berdiri mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan duduk.
Mari kita kembali kepada hadits.
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ
“Semua bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu masuk neraka”.
Bid’ah itu kata benda, tentu mempunyai sifat, tidak mungkin ia tidak mempunyai sifat, mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak disebutkan dalam hadits di atas; dalam Ilmu Balaghah dikatakan, حدف الصفة على الموصوف “membuang sifat dari benda yang bersifat”. Seandainya kita tulis sifat bid’ah maka terjadi dua kemungkinan: Kemungkinan pertama :
كُلُّ بِدْعَةٍ حَسَنَةٍ ضَلاَ لَةٌ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ
“Semua bid’ah yang baik sesat, dan semua yang sesat masuk neraka”.
Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil. Maka yang bisa dipastikan kemungkinan yang kedua :
كُلُّ بِدْعَةٍ سَيِئَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّاِر
“Semua bid’ah yang jelek itu sesat, dan semua kesesatan itu masuk neraka”.
Jelek dan sesat paralel tidak bertentangan, hal ini terjadi pula dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah membuang sifat kapal dalam firman-Nya :
وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِيْنَةٍ غَصْبَا (الكهف: 79)
“Di belakang mereka ada raja yang akan merampas semua kapal dengan paksa”. (Al-Kahfi : 79).
Dalam ayat tersebut Allah SWT tidak menyebutkan kapal baik apakah kapal jelek; karena yang jelek tidak akan diambil oleh raja. Maka lafadh كل سفينة sama dengan كل بد عة tidak disebutkan sifatnya, walaupun pasti punya sifat, ialah kapal yang baik كل سفينة حسنة .
Selain itu, ada pendapat lain tentang bid’ah dari Syaikh Zaruq, seperti dikutip Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Menurutnya, ada tiga norma untuk menentukan, apakah perkara baru dalam urusan agama itu disebut bid’ah atau tidak: Pertama, jika perkara baru itu didukung oleh sebagian besar syari’at dan sumbernya, maka perkara tersebut bukan merupakan bid’ah, akan tetapi jika tidak didukung sama sekali dari segala sudut, maka perkara tersebut batil dan sesat.
Kedua, diukur dengan kaidah-kaidah yang digunakan para imam dan generasi salaf yang telah mempraktikkan ajaran sunnah. Jika perkara baru tersebut bertentangan dengan perbuatan para ulama, maka dikategorikan sebagai bid’ah. Jika para ulama masih berselisih pendapat mengenai mana yang dianggap ajaran ushul (inti) dan mana yang furu’ (cabang), maka harus dikembalikan pada ajaran ushul dan dalil yang mendukungnya.
Ketiga, setiap perbuatan ditakar dengan timbangan hukum. Adapun rincian hukum dalam syara’ ada enam, yakni wajib, sunah, haram, makruh, khilaful aula, dan mubah. Setiap hal yang termasuk dalam salah satu hukum itu, berarti bias diidentifikasi dengan status hukum tersebut. Tetapi, jika tidak demikian, maka hal itu bisa dianggap bid’ah.
Syeikh Zaruq membagi bid’ah dalam tiga macam; pertama, bid’ah Sharihah (yang jelas dan terang). Yaitu bid’ah yang dipastikan tidak memiliki dasar syar’i, seperti wajib, sunnah, makruh atau yang lainnya. Menjalankan bid’ah ini berarti mematikan tradisi dan menghancurkan kebenaran. Jenis bid’ah ini merupakan bid’ah paling jelek. Meski bid’ah ini memiliki seribu sandaran dari hukum-hukum asal ataupun furu’, tetapi tetap tidak ada pengaruhnya. Kedua, bid’ah idlafiyah (relasional), yakni bid’ah yang disandarkan pada suatu praktik tertentu. Seandainya-pun, praktik itu telah terbebas dari unsur bid’ah tersebut, maka tidak boleh memperdebatkan apakah praktik tersebut digolongkan sebagai sunnah atau bukan bid’ah.
Ketiga, bid’ah khilafi (bid’ah yang diperselisihkan), yaitu bid’ah yang memiliki dua sandaran utama yang sama-sama kuat argumentasinya. Maksudnya, dari satu sandaran utama tersebut, bagi yang cenderung mengatakan itu termasuk sunnah, maka bukan bid’ah. Tetapi, bagi yang melihat dengan sandaran utama itu termasuk bid’ah, maka berarti tidak termasuk sunnah, seperti soal dzikir berjama’ah atau soal administrasi.
Hukum bid’ah menurut Ibnu Abd Salam, seperti dinukil Hadratusy Syeikh dalam kitab Risalah Ahlussunnah Waljama’ah, ada lima macam: pertama, bid’ah yang hukumnya wajib, yakni melaksanakan sesuatu yang tidak pernah dipraktekkan Rasulullah SAW, misalnya mempelajari ilmu Nahwu atau mengkaji kata-kata asing (garib) yang bisa membantu pada pemahaman syari’ah.
Kedua, bid’ah yang hukumnya haram, seperti aliran Qadariyah, Jabariyyah dan Mujassimah. Ketiga, bid’ah yang hukumnya sunnah, seperti membangun pemondokan, madrasah (sekolah), dan semua hal baik yang tidak pernah ada pada periode awal. Keempat, bid’ah yang hukumnya makruh, seperti menghiasi masjid secara berlebihan atau menyobek-nyobek mushaf. Kelima, bid’ah yang hukumnya mubah, seperti berjabat tangan seusai shalat Shubuh maupun Ashar, menggunakan tempat makan dan minum yang berukuran lebar, menggunakan ukuran baju yang longgar, dan hal yang serupa.
Dengan penjelasan bid’ah seperti di atas, Hadratusy Syeikh kemudian menyatakan, bahwa memakai tasbih, melafazhkan niat shalat, tahlilan untuk mayyit dengan syarat tidak ada sesuatu yang menghalanginya, ziarah kubur, dan semacamnya, itu semua bukanlah bid’ah yang sesat. Adapun praktek-praktek, seperti pungutan di pasar-pasar malam, main dadu dan lain-lainnya merupakan bid’ah yang tidak baik.
--(KH. A.N. Nuril Huda, Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) dalam "Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) Menjawab", diterbitkan oleh PP LDNU)
BLOG INI SAYA BUAT UNTUK MENGAJAK SELURUH RAKYAT INDONESIA MERDEKA LAHIR DAN BATIN DAN INSYA ALLAH SAYA SIAP MENJADI PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT INDONESIA (2049-2054)
Kamis, 05 November 2009
Rabu, 04 November 2009
MALIN KUNDANG !
Pada kesempatan berkabar terakhir dengan bundanya, sebelum perempuan tua ini berangkat menyusul ke kota, Malin Kundang mengingatkan dengan setengah bercanda, “Emak, apabila tekad Emak sudah bulat hendak menyusulku ke kota, siapakah yang nanti akan menyapa unggas di halaman, menghalau domba di pekarangan?” Emak pun hanya menukas kecil, “Malin, kerinduanku terhadap buah hati lebih dari semua itu. Aku ingin menjumpai orang yang telah aku timang-timang.” Emak tua telah bersikeras hendak pergi.
Kendati unggas nanti akan dengan sendirinya melupakan wajah tua itu, dan domba-domba berlarian hanya menjejak rumput hijau untuk dimakan, angin sepoi-sepoi berbisik. Seperti apakah pemandangan di kota? Apakah diriku akan hilang di tengah padang luas mereka, tersedot oleh gorong-gorong air sebesar pintu lumbung padi itu? Emak menatap ke empat penjuru mata angin dan sekilas dia melihat di satu sudut ufuk langit gemintang berkelip lebih terang. Ia tidak mengerti penampakan seperti itu: yang dipandanginya sebuah gugus melingkar seperti pusaran air. Dari luar seperti terseret ke arah dalam, membentuk lingkaran lagi yang lebih kecil.
Tanggal yang digurat-gurat di ujung antan sudah genap. Emak sudah pula menukar hasil dari kebun belakang dengan segenggam uang logam. Ia mendengar bahwa di kota mereka “makan dengan uang”, bukan “makan nasi.” Kupu-kupu dan lebah seperti melepas Emak pergi, sekalipun keduanya tetap sibuk menghisap madu bunga. Tidak ada yang perlu diusik dengan ritual flora dan fauna di halaman. Mereka mengerjakan itu semua seperti otomatis, dikendalikan oleh pikiran sehat dari Pembuatnya.
Seperti ditorehkan oleh para penulis legenda, seperti telah diterima tanpa pertanyaan oleh telinga bocah-bocah: Malin Kundang memperlakukan Emaknya dengan nista. Simpul tersebut secara singkat tanpa penjelasan apapun oleh para ninik-mamak yang melantangkan legenda ditandai dengan cap durhaka. Malin Kundang berlaku durhaka kepada Emaknya, dan kita semua sampai bermasa-masa selanjutnya masih berdiri tegak di belakang Emak.
Namun, apakah sebab dari kedurhakaan itu? Apakah karena Malin Kundang beroleh pangkat, bertimbun harta, berpijak pada kebanggaan sebagai orang yang terangkat martabatnya? Bagaimana seandainya dia ingin membuang sejarah? Siapa tahu pada dirinya terdapat perasaan malu atau rendah diri bahwa selama ini lingkungannya yang hanya seluas batok kelapa itu telah dianggap mengerdilkannya. Dan Emak adalah perlambang dunia lama itu yang kemudian muncul dan mengusik pada masa kekiniannya. Anak durhaka itu — demikian orang menyebut — tidak kuasa menampik Emak secara kenyataan substansial, namun pada perlawanannya menguasai perasaan rendah diri itu Malin Kundang harus mengusirnya. Barangkali ia sadar bahwa tinta sejarah akan menulisnya sebagai lancung, namun pikiran pendek dan kegeraman terhadap perulangan kondisi buruk yang disangkanya akan muncul, menguasai pertimbangan seperti itu. “Akulah Malin Kundang. Aku tidak terusik sedikitpun dengan caraku bertingkah laku seperti ini.”
Legenda memberikan izin yang sedemikian lapang kepada Emak untuk melakukan apapun. Pertama, memang surga di telapak kaki Emak; anak-anak diajari harus takzim kepada bunda yang rahimnya dijadikan persinggahan sebelum mereka memulai menanam ladang untuk diketam di akhirat kelak. Selain itu episode Emak dinistakan ini memang demikian hitam-putih: orang tua itu tidak bersalah apa-apa, dan Malin Kundang bergelimang kemewahan. Bagi sebagian pemapar kebijaksanaan, kemewahan adalah tanda awal penyelewengan.
Apakah tidak sepatutnya anak durhaka ini dikasihani? Karena ia terang-terangan melakukan perbuatan keji yang nantinya akan membawa dirinya pada kesulitan-kesulitan lain yang lebih jauh. Sebelum terlambat. Sebelum lebih akut. Dan siapa orang di muka bumi ini yang lebih mengerti seorang anak selain bundanya sendiri? Pikiran-pikiran seperti itu yang pertama muncul di dalam benak Emak. Ia memang gusar melihat perubahan perilaku anaknya. Ia kecewa. Ia marah karena seperti tidak dianggap.
Namun seperti bercermin terhadap dirinya, Emak menangkap bayang-bayang kesadaran. “Aku harus setimbang, karena ini bukan semata-mata miring ke arah kanan atau beralih ke kiri.” Ia berbicara dengan hatinya sendiri, yang seperti bertanya jawab satu dan banyak hal. “Emak, akulah Atijembar. Engkau lihat cahayaku berkelebat membentuk pusaran pada saat engkau hendak meninggalkan rumahmu. Akulah makhluk yang paling dekat denganmu, karena engkau dapat mendengarkan aku bahkan seandainyapun telingamu tuli dan engkau dapat berbicara denganku sekalipun mulutmu bungkam. Aku hanya tidak dapat dijangkau oleh mereka yang telah pekak dan bisu.” Tanpa dijelaskan maksud kehadirannya pun, Emak sudah mafhum.
“Aku sudah mengingatkannya, sudah mengajaknya untuk bertobat, apakah dengan demikian kutukanku menjadi keniscayaan? Akulah yang dengan izin-Nya telah melahirkan dirinya ke dunia, pantaskah apabila sekarang aku pula yang mengantarkan dirinya kepada kebinasaan? Bukankah seharusnya aku yang mencintai darah keturunanku lebih dari yang lainnya? Sebenarnya siapa aku ini yang sekarang sedemikian gusar sehingga berencana mengeluarkan kutukan? Apakah kebaikan yang menyertai, pembalasan terhadap kenistaan, atau hanya nafsu amarah yang menyala-nyala?”
Atijembar hanya bergumam lirih, “Emak, gunung pun akan meledak mendengar kutukan bunda. Awan menjadi pekat, langit mendung dan murung. Kehidupan terhenti oleh kutukan bunda — orang yang mengantar awal kehidupan. Apakah demikian yang menjadi dorongan hatimu?” Keluh kesah Emak, pertanyaan Atijembar, kesadaran dan kebimbangan, keraguan dan perasaan ingin berontak, semua berputar dari sebuah dorongan yang memang sebenarnya satu sumbernya. Alam semesta ini sedemikian luas tiada terkira, namun hati manusia yang membuka terhadap cahaya jauh lebih lapang lagi. Demikian pula, butir-butir pergulatan batin jauh lebih halus dari pikiran-pikiran manusia tentang ukuran superkecil. Seolah-olah alam semesta ini hendak bergerak atau diam, hati manusialah yang menjadi pusaran. Karena demikianlah kekuasaan Tuhan menitipkan sejumput cahaya-Nya bersemai di dalam hati.
Kisah kutukan Emak terhadap Malin Kundang itu yang menandai peristiwa sejarah berikutnya. Legenda-legenda yang disebut cerita rakyat atau hikayat dari masa lalu penuh dengan kejadian kutuk-mengutuk, amarah dan sumpah, serta keculasan yang dilakukan lakon-lakonnya. Sekalipun berdalih keselamatan dan kebahagiaan, kenapa yang ditularkan adalah kebohongan dan sikap satu berkuasa terhadap lainnya? Cerita Timun Emas dilakonkan oleh tokoh ibu yang mau menang sendiri beroleh keturunan dan kemudian mengenyahkan raksasa yang membantunya. Bawang Putih dan Bawang Merah dipenuhi oleh sikap tidak terpuji yang ditonjolkan oleh ibu tiri. Demikian juga legenda patung dan candi yang berakhir dengan diplomasi membokong dari belakang. Lakon-lakon tersebut digambarkan menang dengan cara yang penuh amarah atau tipu daya. Bukan karena kemampuan berunding dan nilai tawar yang sejajar.
“Inilah aku yang mencoba menguasai alam kesadaranku”, jerit Emak di dalam batin. Bukan seperti sekali membalik telapak tangan atau semudah merunut bacaan tentang kebaikan di dalam kesabaran. Karena Emak yang mengalami dan Malin Kundang adalah buah hatinya sendiri. Segumpal kesayangan yang telah ditimang dan dibesarkan di dada dan di pangkuan dirinya sendiri. Ia seperti bercermin dan melihat muka sendiri. “Jikalau aku mengutuknya karena kesalahan yang diperbuat saat ini, sedikit atau banyak, aku memiliki andil dalam menanam bibit kesalahan itu,” demikian bayangan di cermin itu senantiasa berpulang pada dirinya.
Perlawanan terhadap keakuan dirinya itulah yang paling berat dirasakan oleh Emak. Perlakuan buruk Malin Kundang seperti tidak berarti dibanding jeritan batinnya menyeimbangkan perasaan tegar terhadap keadaan pahit dan rasa cinta kepada anak kesayangannya. “Seandainya engkau orang lain, aku akan mengabaikan kejahatanmu. Sekiranya aku sudah berlepas dari keadaan cinta ini, maka petir berkilat-kilat menyambar dirimu dan aku pergi,” dengan susah payah perempuan tua itu meneguhkan sikapnya dan setengah berdoa. Sikap tenang yang diambil Emak sebenarnya penuh diisi pergulatan batin dan terkadang ia merasa bahwa mengurus kambing di kampung pun jauh lebih ringan dibanding mengendalikan pikiran. “Aku tidak mau hancur oleh rasa cintaku yang berlebih, seperti aku juga tidak berniat menghancurkan cinta itu sendiri”, itu pula yang ingin dijadikan tekadnya.
Dinding cinta itu pun masih sesekali diusik oleh pertanyaan lain yang setengah menggoda, “Benarkah engkau bersungguh-sungguh dengan tekadmu ini? Apakah bukan karena perolehan lain yang ingin engkau dapatkan kelak?” Emak adalah seorang bunda yang juga manusia biasa seperti lainnya. Ia bisa menjadi sedemikian optimis dengan keteguhan kasih sayangnya, namun dapat menjadi murung dengan kepayahan yang dialami. Ia berdiri tegar mengingat terpaan angin dan hujan tatkala membesarkan Malinkundang; namun ia juga seperti lumpuh menghadapi kepahitan yang menggantikan kenangannya pada padang rumput hijau. Seperti sedikit disesali anaknya dilepas pergi mengikuti saudagar itu beberapa tahun silam, namun ia mengembalikan lagi kepada keadaan bahwa penyesalan seperti itu hanya sebuah kerikil yang digilas roda raksasa waktu. Kadang Emak juga ingin menghilangkan jati dirinya sebagai bunda, agar semua perasaan manis atau pahit dapat lalu lalang melewati dirinya tanpa menimbulkan pengaruh apapun.
Pada suatu malam Emak berbisik kepada Atijembar, “Aku melucuti predikat bunda dari diriku, karena memang fungsi itu lumpuh saat ini dan aku lebih baik bebas menjadi manusia yang merdeka. Aku ingin menyaksikan hujan turun membasahi bumi bukan karena beranggapan hatiku yang lapang sudah berhasil menerima keadaan buruk. Aku juga ingin mendengar petir menggelegar tidak karena dikaitkan dengan kemarahanku yang membubung ke langit. Segala sesuatu seharusnya datang dari Yang Memberi Rahmat dan Yang Menurunkan Azab. Kita tidak sepantasnya menyanjung manusia lain dan tidak pada tempatnya menyakiti sesama. Biarlah malaikat-malaikat yang tanpa keinginan dan nafsu itu mengerjakan tugas mereka dengan paripurna.”
Batu mengeluarkan pancuran air yang konon adalah Malin Kundang menangisi penyesalannya terkena kutukan bunda, setelah lama berselang mulai dilupakan orang. Anak-anak yang mendengar hikayat itu setelah besar belajar ilmu alam dan semakin dapat memisahkan bagian yang disebut legenda dan realita. Para pengunjung tempat itu pun sesekali membicarakan perihal batu tersebut dibumbui legenda Malinkundang, namun sangat sedikit yang meletakkan hal itu sebagai keniscayaan peristiwa kasih sayang dan kedurhakaan.
Barangkali juga Malin Kundang tidak sehitam yang digambarkan para penutur yang ingin anak-anak pendengarnya beroleh pesan penghormatan kepada bundanya. Demikian juga pergulatan batin Emak di depan anaknya yang durhaka tentulah berisi kemuliaan seorang bunda dibanding sumpah kutukan perempuan yang menganggap dirinya berkuasa.
Kendati unggas nanti akan dengan sendirinya melupakan wajah tua itu, dan domba-domba berlarian hanya menjejak rumput hijau untuk dimakan, angin sepoi-sepoi berbisik. Seperti apakah pemandangan di kota? Apakah diriku akan hilang di tengah padang luas mereka, tersedot oleh gorong-gorong air sebesar pintu lumbung padi itu? Emak menatap ke empat penjuru mata angin dan sekilas dia melihat di satu sudut ufuk langit gemintang berkelip lebih terang. Ia tidak mengerti penampakan seperti itu: yang dipandanginya sebuah gugus melingkar seperti pusaran air. Dari luar seperti terseret ke arah dalam, membentuk lingkaran lagi yang lebih kecil.
Tanggal yang digurat-gurat di ujung antan sudah genap. Emak sudah pula menukar hasil dari kebun belakang dengan segenggam uang logam. Ia mendengar bahwa di kota mereka “makan dengan uang”, bukan “makan nasi.” Kupu-kupu dan lebah seperti melepas Emak pergi, sekalipun keduanya tetap sibuk menghisap madu bunga. Tidak ada yang perlu diusik dengan ritual flora dan fauna di halaman. Mereka mengerjakan itu semua seperti otomatis, dikendalikan oleh pikiran sehat dari Pembuatnya.
Seperti ditorehkan oleh para penulis legenda, seperti telah diterima tanpa pertanyaan oleh telinga bocah-bocah: Malin Kundang memperlakukan Emaknya dengan nista. Simpul tersebut secara singkat tanpa penjelasan apapun oleh para ninik-mamak yang melantangkan legenda ditandai dengan cap durhaka. Malin Kundang berlaku durhaka kepada Emaknya, dan kita semua sampai bermasa-masa selanjutnya masih berdiri tegak di belakang Emak.
Namun, apakah sebab dari kedurhakaan itu? Apakah karena Malin Kundang beroleh pangkat, bertimbun harta, berpijak pada kebanggaan sebagai orang yang terangkat martabatnya? Bagaimana seandainya dia ingin membuang sejarah? Siapa tahu pada dirinya terdapat perasaan malu atau rendah diri bahwa selama ini lingkungannya yang hanya seluas batok kelapa itu telah dianggap mengerdilkannya. Dan Emak adalah perlambang dunia lama itu yang kemudian muncul dan mengusik pada masa kekiniannya. Anak durhaka itu — demikian orang menyebut — tidak kuasa menampik Emak secara kenyataan substansial, namun pada perlawanannya menguasai perasaan rendah diri itu Malin Kundang harus mengusirnya. Barangkali ia sadar bahwa tinta sejarah akan menulisnya sebagai lancung, namun pikiran pendek dan kegeraman terhadap perulangan kondisi buruk yang disangkanya akan muncul, menguasai pertimbangan seperti itu. “Akulah Malin Kundang. Aku tidak terusik sedikitpun dengan caraku bertingkah laku seperti ini.”
Legenda memberikan izin yang sedemikian lapang kepada Emak untuk melakukan apapun. Pertama, memang surga di telapak kaki Emak; anak-anak diajari harus takzim kepada bunda yang rahimnya dijadikan persinggahan sebelum mereka memulai menanam ladang untuk diketam di akhirat kelak. Selain itu episode Emak dinistakan ini memang demikian hitam-putih: orang tua itu tidak bersalah apa-apa, dan Malin Kundang bergelimang kemewahan. Bagi sebagian pemapar kebijaksanaan, kemewahan adalah tanda awal penyelewengan.
Apakah tidak sepatutnya anak durhaka ini dikasihani? Karena ia terang-terangan melakukan perbuatan keji yang nantinya akan membawa dirinya pada kesulitan-kesulitan lain yang lebih jauh. Sebelum terlambat. Sebelum lebih akut. Dan siapa orang di muka bumi ini yang lebih mengerti seorang anak selain bundanya sendiri? Pikiran-pikiran seperti itu yang pertama muncul di dalam benak Emak. Ia memang gusar melihat perubahan perilaku anaknya. Ia kecewa. Ia marah karena seperti tidak dianggap.
Namun seperti bercermin terhadap dirinya, Emak menangkap bayang-bayang kesadaran. “Aku harus setimbang, karena ini bukan semata-mata miring ke arah kanan atau beralih ke kiri.” Ia berbicara dengan hatinya sendiri, yang seperti bertanya jawab satu dan banyak hal. “Emak, akulah Atijembar. Engkau lihat cahayaku berkelebat membentuk pusaran pada saat engkau hendak meninggalkan rumahmu. Akulah makhluk yang paling dekat denganmu, karena engkau dapat mendengarkan aku bahkan seandainyapun telingamu tuli dan engkau dapat berbicara denganku sekalipun mulutmu bungkam. Aku hanya tidak dapat dijangkau oleh mereka yang telah pekak dan bisu.” Tanpa dijelaskan maksud kehadirannya pun, Emak sudah mafhum.
“Aku sudah mengingatkannya, sudah mengajaknya untuk bertobat, apakah dengan demikian kutukanku menjadi keniscayaan? Akulah yang dengan izin-Nya telah melahirkan dirinya ke dunia, pantaskah apabila sekarang aku pula yang mengantarkan dirinya kepada kebinasaan? Bukankah seharusnya aku yang mencintai darah keturunanku lebih dari yang lainnya? Sebenarnya siapa aku ini yang sekarang sedemikian gusar sehingga berencana mengeluarkan kutukan? Apakah kebaikan yang menyertai, pembalasan terhadap kenistaan, atau hanya nafsu amarah yang menyala-nyala?”
Atijembar hanya bergumam lirih, “Emak, gunung pun akan meledak mendengar kutukan bunda. Awan menjadi pekat, langit mendung dan murung. Kehidupan terhenti oleh kutukan bunda — orang yang mengantar awal kehidupan. Apakah demikian yang menjadi dorongan hatimu?” Keluh kesah Emak, pertanyaan Atijembar, kesadaran dan kebimbangan, keraguan dan perasaan ingin berontak, semua berputar dari sebuah dorongan yang memang sebenarnya satu sumbernya. Alam semesta ini sedemikian luas tiada terkira, namun hati manusia yang membuka terhadap cahaya jauh lebih lapang lagi. Demikian pula, butir-butir pergulatan batin jauh lebih halus dari pikiran-pikiran manusia tentang ukuran superkecil. Seolah-olah alam semesta ini hendak bergerak atau diam, hati manusialah yang menjadi pusaran. Karena demikianlah kekuasaan Tuhan menitipkan sejumput cahaya-Nya bersemai di dalam hati.
Kisah kutukan Emak terhadap Malin Kundang itu yang menandai peristiwa sejarah berikutnya. Legenda-legenda yang disebut cerita rakyat atau hikayat dari masa lalu penuh dengan kejadian kutuk-mengutuk, amarah dan sumpah, serta keculasan yang dilakukan lakon-lakonnya. Sekalipun berdalih keselamatan dan kebahagiaan, kenapa yang ditularkan adalah kebohongan dan sikap satu berkuasa terhadap lainnya? Cerita Timun Emas dilakonkan oleh tokoh ibu yang mau menang sendiri beroleh keturunan dan kemudian mengenyahkan raksasa yang membantunya. Bawang Putih dan Bawang Merah dipenuhi oleh sikap tidak terpuji yang ditonjolkan oleh ibu tiri. Demikian juga legenda patung dan candi yang berakhir dengan diplomasi membokong dari belakang. Lakon-lakon tersebut digambarkan menang dengan cara yang penuh amarah atau tipu daya. Bukan karena kemampuan berunding dan nilai tawar yang sejajar.
“Inilah aku yang mencoba menguasai alam kesadaranku”, jerit Emak di dalam batin. Bukan seperti sekali membalik telapak tangan atau semudah merunut bacaan tentang kebaikan di dalam kesabaran. Karena Emak yang mengalami dan Malin Kundang adalah buah hatinya sendiri. Segumpal kesayangan yang telah ditimang dan dibesarkan di dada dan di pangkuan dirinya sendiri. Ia seperti bercermin dan melihat muka sendiri. “Jikalau aku mengutuknya karena kesalahan yang diperbuat saat ini, sedikit atau banyak, aku memiliki andil dalam menanam bibit kesalahan itu,” demikian bayangan di cermin itu senantiasa berpulang pada dirinya.
Perlawanan terhadap keakuan dirinya itulah yang paling berat dirasakan oleh Emak. Perlakuan buruk Malin Kundang seperti tidak berarti dibanding jeritan batinnya menyeimbangkan perasaan tegar terhadap keadaan pahit dan rasa cinta kepada anak kesayangannya. “Seandainya engkau orang lain, aku akan mengabaikan kejahatanmu. Sekiranya aku sudah berlepas dari keadaan cinta ini, maka petir berkilat-kilat menyambar dirimu dan aku pergi,” dengan susah payah perempuan tua itu meneguhkan sikapnya dan setengah berdoa. Sikap tenang yang diambil Emak sebenarnya penuh diisi pergulatan batin dan terkadang ia merasa bahwa mengurus kambing di kampung pun jauh lebih ringan dibanding mengendalikan pikiran. “Aku tidak mau hancur oleh rasa cintaku yang berlebih, seperti aku juga tidak berniat menghancurkan cinta itu sendiri”, itu pula yang ingin dijadikan tekadnya.
Dinding cinta itu pun masih sesekali diusik oleh pertanyaan lain yang setengah menggoda, “Benarkah engkau bersungguh-sungguh dengan tekadmu ini? Apakah bukan karena perolehan lain yang ingin engkau dapatkan kelak?” Emak adalah seorang bunda yang juga manusia biasa seperti lainnya. Ia bisa menjadi sedemikian optimis dengan keteguhan kasih sayangnya, namun dapat menjadi murung dengan kepayahan yang dialami. Ia berdiri tegar mengingat terpaan angin dan hujan tatkala membesarkan Malinkundang; namun ia juga seperti lumpuh menghadapi kepahitan yang menggantikan kenangannya pada padang rumput hijau. Seperti sedikit disesali anaknya dilepas pergi mengikuti saudagar itu beberapa tahun silam, namun ia mengembalikan lagi kepada keadaan bahwa penyesalan seperti itu hanya sebuah kerikil yang digilas roda raksasa waktu. Kadang Emak juga ingin menghilangkan jati dirinya sebagai bunda, agar semua perasaan manis atau pahit dapat lalu lalang melewati dirinya tanpa menimbulkan pengaruh apapun.
Pada suatu malam Emak berbisik kepada Atijembar, “Aku melucuti predikat bunda dari diriku, karena memang fungsi itu lumpuh saat ini dan aku lebih baik bebas menjadi manusia yang merdeka. Aku ingin menyaksikan hujan turun membasahi bumi bukan karena beranggapan hatiku yang lapang sudah berhasil menerima keadaan buruk. Aku juga ingin mendengar petir menggelegar tidak karena dikaitkan dengan kemarahanku yang membubung ke langit. Segala sesuatu seharusnya datang dari Yang Memberi Rahmat dan Yang Menurunkan Azab. Kita tidak sepantasnya menyanjung manusia lain dan tidak pada tempatnya menyakiti sesama. Biarlah malaikat-malaikat yang tanpa keinginan dan nafsu itu mengerjakan tugas mereka dengan paripurna.”
Batu mengeluarkan pancuran air yang konon adalah Malin Kundang menangisi penyesalannya terkena kutukan bunda, setelah lama berselang mulai dilupakan orang. Anak-anak yang mendengar hikayat itu setelah besar belajar ilmu alam dan semakin dapat memisahkan bagian yang disebut legenda dan realita. Para pengunjung tempat itu pun sesekali membicarakan perihal batu tersebut dibumbui legenda Malinkundang, namun sangat sedikit yang meletakkan hal itu sebagai keniscayaan peristiwa kasih sayang dan kedurhakaan.
Barangkali juga Malin Kundang tidak sehitam yang digambarkan para penutur yang ingin anak-anak pendengarnya beroleh pesan penghormatan kepada bundanya. Demikian juga pergulatan batin Emak di depan anaknya yang durhaka tentulah berisi kemuliaan seorang bunda dibanding sumpah kutukan perempuan yang menganggap dirinya berkuasa.
Rabu, 21 Oktober 2009
Karya Ilmiyah
“JALAN MENIKUNG PARA PRIYAYI 2” merupakan sebuah novel setebal 184 halaman karya penulis ternama Indonesia Umar Kayam. Novel ini menceritakan kisah seorang pemuda pribumi Indonesia yang belajar menuntut ilmu di Negeri Paman Sam.
Eko pemuda cerdas anak pasangan Harimurti dengan Sulistyanigsih ini mendapatkan beasiswa dari AFS(American Field Service) untuk belajar di Amerika Serikat dan bahkan menamatkan Sekolah Menengah Atas di Sunnybrook College di kota Sunnybrook, Connecticut, AS. Setelah dua tahun sekolah dan menamtkan masa SMAnya di Sunnybrook College, Eko ingin kembali ke tanah air untuk berbhakti kepada Negara dan orangtuanya di Indonesia . Akan tetapi, karena terbentur masa lalu ayahnya yang dianggap tidak bersih dari G30S/PKI akhirnya Eko melanjutkan study nya di Sunnybrook College. Setelah mendapatkan ijazah Sunnybrook College dengan predikat summa cum laude, Eko langsung diterima di perusahaan penerbutan Asia Books, sebuah perusahaan penerbitan internasional di New York. Kehidupan Eko di New York tidak hanya sekedar untuk belajar dan bekerja tetapi ia juga menjalin hubungan dengan masyarakat New York layaknya di Indonesia. Pada akhir bulan September, musim gugur, dipinggir sungai kecil di batas kota, ia berkenalan dengan wanita cantik Amerika keturunan Yahudi bernama Claire Levin. Mereka semakin dari semakin intim layaknya orang berpacaran.
Harimurti dan Sulis orang tua Eko, yang merindukan kedatangan anak semata mayangnya itu. Tiba-tiba mereka mendapatkan surat dari New York yang berisikan eko meminta restu dari Bapak-Ibunya untuk meikah dengan gadis Amerika dari keturunan Yahudi. Mereka sempat terkejut dengan isi surat yang dikirim Eko, karena anak mereka akan menikah dengan gadis asing keturunan yahudi pula yang tentu saja berlainan agama dengan Eko. Akan teapi dengan bijaksana dan demi kenyamanan hidup Eko, Hari dan Suli membalas surat Eko dan Merestui hubungan mereka.
http://chanersyah1945.blogspot.com/2008/04/contoh-karya-tulis-ilmiah.html
http://tarjo2009.blogspot.com/2009/04/dai-dan-konflik-perspektif-dalam-islam.html
uplikan karya ilmiyah popular :
Istilah keluasan pendapat pada ungkapan bijak di atas tentu memiliki makna yang amat mendalam, Imam Ahmad tentu telah mempertimbangkan betapa kata "keluasan" tentu lebih meninggikan derajat manusia yang lahir dengan dibekali akal fikiran yang tentu
semata-mata hanya dapat digunakan untuk kepentingan dari perorangan atau goloangan. Tentu saja dalam memahami kata "keluasan" lebih akan terasa betapa ternyata manusia telah diberikan sesuatu yang amat berharga yaitu akal yang digunakan untuk berfiakir, dibandingkan dengan kata "perbedaan" yang rentan dengan lahirnya satu konflik karena dianggap tidak sefaham satu sama lain.
Persoalan konflik perspektif dalam memahami Islam bukan merupakan hal baru, kendatipun akan selalu aktual dari generasi ke generasi yang hanya Allah yang tau sampai kapan generasi muslim akan berakhir di muka bumi ini. Jika kembali pada sejarah, maka akan didapati mengenai persoalan konflik perspektif tersebut yang memang berakar dari konflik yang diwariskan oleh para sahabat pasca Usman r.a., yang terus berkembang samapai saat ini.
Eko pemuda cerdas anak pasangan Harimurti dengan Sulistyanigsih ini mendapatkan beasiswa dari AFS(American Field Service) untuk belajar di Amerika Serikat dan bahkan menamatkan Sekolah Menengah Atas di Sunnybrook College di kota Sunnybrook, Connecticut, AS. Setelah dua tahun sekolah dan menamtkan masa SMAnya di Sunnybrook College, Eko ingin kembali ke tanah air untuk berbhakti kepada Negara dan orangtuanya di Indonesia . Akan tetapi, karena terbentur masa lalu ayahnya yang dianggap tidak bersih dari G30S/PKI akhirnya Eko melanjutkan study nya di Sunnybrook College. Setelah mendapatkan ijazah Sunnybrook College dengan predikat summa cum laude, Eko langsung diterima di perusahaan penerbutan Asia Books, sebuah perusahaan penerbitan internasional di New York. Kehidupan Eko di New York tidak hanya sekedar untuk belajar dan bekerja tetapi ia juga menjalin hubungan dengan masyarakat New York layaknya di Indonesia. Pada akhir bulan September, musim gugur, dipinggir sungai kecil di batas kota, ia berkenalan dengan wanita cantik Amerika keturunan Yahudi bernama Claire Levin. Mereka semakin dari semakin intim layaknya orang berpacaran.
Harimurti dan Sulis orang tua Eko, yang merindukan kedatangan anak semata mayangnya itu. Tiba-tiba mereka mendapatkan surat dari New York yang berisikan eko meminta restu dari Bapak-Ibunya untuk meikah dengan gadis Amerika dari keturunan Yahudi. Mereka sempat terkejut dengan isi surat yang dikirim Eko, karena anak mereka akan menikah dengan gadis asing keturunan yahudi pula yang tentu saja berlainan agama dengan Eko. Akan teapi dengan bijaksana dan demi kenyamanan hidup Eko, Hari dan Suli membalas surat Eko dan Merestui hubungan mereka.
http://chanersyah1945.blogspot.com/2008/04/contoh-karya-tulis-ilmiah.html
http://tarjo2009.blogspot.com/2009/04/dai-dan-konflik-perspektif-dalam-islam.html
uplikan karya ilmiyah popular :
Istilah keluasan pendapat pada ungkapan bijak di atas tentu memiliki makna yang amat mendalam, Imam Ahmad tentu telah mempertimbangkan betapa kata "keluasan" tentu lebih meninggikan derajat manusia yang lahir dengan dibekali akal fikiran yang tentu
semata-mata hanya dapat digunakan untuk kepentingan dari perorangan atau goloangan. Tentu saja dalam memahami kata "keluasan" lebih akan terasa betapa ternyata manusia telah diberikan sesuatu yang amat berharga yaitu akal yang digunakan untuk berfiakir, dibandingkan dengan kata "perbedaan" yang rentan dengan lahirnya satu konflik karena dianggap tidak sefaham satu sama lain.
Persoalan konflik perspektif dalam memahami Islam bukan merupakan hal baru, kendatipun akan selalu aktual dari generasi ke generasi yang hanya Allah yang tau sampai kapan generasi muslim akan berakhir di muka bumi ini. Jika kembali pada sejarah, maka akan didapati mengenai persoalan konflik perspektif tersebut yang memang berakar dari konflik yang diwariskan oleh para sahabat pasca Usman r.a., yang terus berkembang samapai saat ini.
Senin, 12 Oktober 2009
Assalamualaikum Wr Wb
Nuwun !
Dumatheng panjenenganipun Bapa Kepala Dinas Pendodikan Pemudha dan Olahraga kabupaten Kebumeningkang pantes sinudarsono
Dumatheng Pangemban pangembating praja satriyaning negari ingkang tansah kulo bekteni
Dumatheng panjenenganipun Bapa/Ibu juru pambiji Sesorah ingkang tansah kulo hormati
Dumatheng Bapa/Ibu Dwija Basa Jawi Pandamping panyarta Adu wasis sesorah ingkang kulo hormati
Soho, dumatheng para panyarta adu wasis sesorah ingkang kulo tresnani
Saderengipun kulo nyuwun agunging pangapunten amargi kumowantun cumantaka matur ngadeg wonten ngarso panjenengan sedoyo
Saperlu ngaturaken sesorah ingkang hanggadahi Irah-irahan “GUMREGAH NGGAYUH KUNCARANING BANGSA”
Slajengipun sumangga kulo aturi sesrengan ngunjuaken raos puji syukur dumatheng ngarso dalem Allah SWT, ingkang sampun paring kasarasan, karaharjan, sahenggo wonten enjang meniko kita taksih saged kempal manunggal hangrawuhi adicara asu wasis sesorah basa Jawi
Sholawat soho salam mugi tansah katetepaken Allah SWT dumatheng junjungan kito Nabi Agung Muhammad SAW, ingkang kita ajeng-ajeng syafa’atipun benjang wonten yaumul qiyamah allohuma amin……!
Sagung para rawuh kakung miwah putri ingkang kula hormati
Kita sedoyo angertos bilih Bangsa Indonesia sampun mijil 64 tahun kepengker, ananging bangsa meniko taksih tebih katilar dening bangsa-bangsa sanes , meniko kedah dipun galeh sareng-sareng. Menopo ingkang andamel bangsa kita mboten enggal-enggal majeng ? ananging wonten salebetipun gangsal warsa pungkasan , bangsa Indonesia sampun ngedalaken kemampuan aslinipun, kathah para siswa ingkang nggondol medali emas wonten Olimpiade Fisika, Matematika, lsp. Menika mratandakake bilih bangsa Indonesia sanggup Gumregah ngoyak ketinggalan saking bangsa-bangsa manca
Indonesia inggih meniko nagari ingkang subur, gemah ripah loh jinawi lir kadya kolam susu, wonten ingkang mastani miniature swarga.
Negari Khatulistiwa ingkang anggadahi iklim tropis, kedahipun ndamel rakyat Indonesia Otot kawat balung wesi kiyat mboten tertandingi, panas ingkang sumelet kados kawah candradimuka andamel tiyang Indonesia rajin twin kiyat.
Mboten naming mekaten, wonten tlatah nuswantara mriki sampun nate mijil kerajaan-kerajaan ingkang adi luhung,ingkang nggadahi nami arum, kadasta Majapahit twin Sriwijaya, meniko bukti bilih wiwit atusan tahun kepengker tlatah Nuswantara samupun kesohor endahipun soho majengipun.
Majapahit kanthi armada perang ingkang agung, ingkang mboten saged dikalahaken dening bangsa-bangsa asia. Bangsa Indonesia sampun ngalami perjuangan nglawan penjajah atusan tahun kanthi korban mayuta-yuta. Menopo badhe kita kesupenaken jasa mulya utama saking para pahlawan kita ? Sampun ngantos, jalaran Bangsa ingkang agung inggih bangsa ingkang ngagungaken pahlawanipun.
Sagung para rawuh kakung sumawana putrid ingkang tansah kinurmatan !
Sedoyo wau, minangka tuladha bilih bangsa-bangsa ing tlatah Nuswantara sampun nate majeng, mila mekaten, smeniko jamanipun kita bangsa Indonesia majeng mbesat ing gegana kadasta Gatotkaca.
Panci, sedoyo meniko kuwaosipun Gusti Allah SWT ananging kita kedah ngupayaaken supados Indonesia cepet-cepet majeng.
Kagem nambah semangat kita anggenipun cepet-cepet nggayuh kuncaraning bangsa , kulo aturaken carios saking R. NG. Ronggowarsito, cariosipun mekaten :
Mbenjang Indonesia bakal kapimpin dening :
1. SATRIYO KININJORO MURWO KUNCARA (Satriya ingkang dipun kunjoro nanging murwo kuncoro wonten saendenging donya nun inggih Ir. Soekarno)
2. SATRIYO MUKTI WIBOWO KWSANDUNG KASAMPAR ( Satriyo ingkang sugih ananging dhawah saking kekuasaan amargi korupsi/ H.M Soeharto)
3. SATRIYO SUMELAING ATUR (Satriyo ingkang naming njabat sekedap sanget/ Bp. B.J Habibi)
4. SATRIYO LELONO JAGAT TOPO NGRAME (Satriyo ingkang remen dolan ananging inggil ilmu agaminipun/ Gus Dur)
5. SATRIYO PININGIT HAMONG TUWUH ( Satriyo ingkang mimpin amargi Kharisma bapakipun)
6. SATRIYO BOYONG PAMBUKANING GAPURO( Satriyo ingkang mbikak gerbang kemajuan inggih meniko SBY)
7. SATRIYO PINANDHITO SINISIHAN WAHYU (Satriyo ingkang ngalim twin pikantuk ilham saking gusti Allah kagem majengaken Indonesia)
Nembe sedoyo mboten saged dipercados ananging saged nambahi semangat kito bilih insya Allah bakal Indonesia badhe cepet-cepet nggayuh lintang kemajengan.
Panjenengan saged mriksani bukti bilih bangsa wonton donya meniko ingkang ekonomi nipun positif nalika krisis, naming Cina, India twin Indonesia tigang negari ingkang bakal nguwasani donya, insyaallah.
Pramila monggo ingkang taksih rumaos warga Indonesia, ingkang taksih rumaos mijil wonten Indonesia, ingkang taksih pengen mangertos majengipun Indonesia, kita sareng sareng mlajar ngoyak katilaran wonten bidangipun piyambak-piyambak, supados Indonesia cepet majeng mbesat ing gegana, sumunar kadasta bagaskara,mugiya Gusti Allah tansah paring kekiyatan dumatheng kita sedoyo amin……. !
Mekaten atur kulo mbok bilih anggen kulo matur kathah kelenta-kelentunipun, kirang subasita mboten naming kulo nyadong sih agunging samudra pangaksama
Wassalamualaikum Wr. Wb
NAMI : HABIB AMIN NURROKHMAN
NOMER :
SEKOLAH : SMAN 1 KEBUMEN
Nuwun !
Dumatheng panjenenganipun Bapa Kepala Dinas Pendodikan Pemudha dan Olahraga kabupaten Kebumeningkang pantes sinudarsono
Dumatheng Pangemban pangembating praja satriyaning negari ingkang tansah kulo bekteni
Dumatheng panjenenganipun Bapa/Ibu juru pambiji Sesorah ingkang tansah kulo hormati
Dumatheng Bapa/Ibu Dwija Basa Jawi Pandamping panyarta Adu wasis sesorah ingkang kulo hormati
Soho, dumatheng para panyarta adu wasis sesorah ingkang kulo tresnani
Saderengipun kulo nyuwun agunging pangapunten amargi kumowantun cumantaka matur ngadeg wonten ngarso panjenengan sedoyo
Saperlu ngaturaken sesorah ingkang hanggadahi Irah-irahan “GUMREGAH NGGAYUH KUNCARANING BANGSA”
Slajengipun sumangga kulo aturi sesrengan ngunjuaken raos puji syukur dumatheng ngarso dalem Allah SWT, ingkang sampun paring kasarasan, karaharjan, sahenggo wonten enjang meniko kita taksih saged kempal manunggal hangrawuhi adicara asu wasis sesorah basa Jawi
Sholawat soho salam mugi tansah katetepaken Allah SWT dumatheng junjungan kito Nabi Agung Muhammad SAW, ingkang kita ajeng-ajeng syafa’atipun benjang wonten yaumul qiyamah allohuma amin……!
Sagung para rawuh kakung miwah putri ingkang kula hormati
Kita sedoyo angertos bilih Bangsa Indonesia sampun mijil 64 tahun kepengker, ananging bangsa meniko taksih tebih katilar dening bangsa-bangsa sanes , meniko kedah dipun galeh sareng-sareng. Menopo ingkang andamel bangsa kita mboten enggal-enggal majeng ? ananging wonten salebetipun gangsal warsa pungkasan , bangsa Indonesia sampun ngedalaken kemampuan aslinipun, kathah para siswa ingkang nggondol medali emas wonten Olimpiade Fisika, Matematika, lsp. Menika mratandakake bilih bangsa Indonesia sanggup Gumregah ngoyak ketinggalan saking bangsa-bangsa manca
Indonesia inggih meniko nagari ingkang subur, gemah ripah loh jinawi lir kadya kolam susu, wonten ingkang mastani miniature swarga.
Negari Khatulistiwa ingkang anggadahi iklim tropis, kedahipun ndamel rakyat Indonesia Otot kawat balung wesi kiyat mboten tertandingi, panas ingkang sumelet kados kawah candradimuka andamel tiyang Indonesia rajin twin kiyat.
Mboten naming mekaten, wonten tlatah nuswantara mriki sampun nate mijil kerajaan-kerajaan ingkang adi luhung,ingkang nggadahi nami arum, kadasta Majapahit twin Sriwijaya, meniko bukti bilih wiwit atusan tahun kepengker tlatah Nuswantara samupun kesohor endahipun soho majengipun.
Majapahit kanthi armada perang ingkang agung, ingkang mboten saged dikalahaken dening bangsa-bangsa asia. Bangsa Indonesia sampun ngalami perjuangan nglawan penjajah atusan tahun kanthi korban mayuta-yuta. Menopo badhe kita kesupenaken jasa mulya utama saking para pahlawan kita ? Sampun ngantos, jalaran Bangsa ingkang agung inggih bangsa ingkang ngagungaken pahlawanipun.
Sagung para rawuh kakung sumawana putrid ingkang tansah kinurmatan !
Sedoyo wau, minangka tuladha bilih bangsa-bangsa ing tlatah Nuswantara sampun nate majeng, mila mekaten, smeniko jamanipun kita bangsa Indonesia majeng mbesat ing gegana kadasta Gatotkaca.
Panci, sedoyo meniko kuwaosipun Gusti Allah SWT ananging kita kedah ngupayaaken supados Indonesia cepet-cepet majeng.
Kagem nambah semangat kita anggenipun cepet-cepet nggayuh kuncaraning bangsa , kulo aturaken carios saking R. NG. Ronggowarsito, cariosipun mekaten :
Mbenjang Indonesia bakal kapimpin dening :
1. SATRIYO KININJORO MURWO KUNCARA (Satriya ingkang dipun kunjoro nanging murwo kuncoro wonten saendenging donya nun inggih Ir. Soekarno)
2. SATRIYO MUKTI WIBOWO KWSANDUNG KASAMPAR ( Satriyo ingkang sugih ananging dhawah saking kekuasaan amargi korupsi/ H.M Soeharto)
3. SATRIYO SUMELAING ATUR (Satriyo ingkang naming njabat sekedap sanget/ Bp. B.J Habibi)
4. SATRIYO LELONO JAGAT TOPO NGRAME (Satriyo ingkang remen dolan ananging inggil ilmu agaminipun/ Gus Dur)
5. SATRIYO PININGIT HAMONG TUWUH ( Satriyo ingkang mimpin amargi Kharisma bapakipun)
6. SATRIYO BOYONG PAMBUKANING GAPURO( Satriyo ingkang mbikak gerbang kemajuan inggih meniko SBY)
7. SATRIYO PINANDHITO SINISIHAN WAHYU (Satriyo ingkang ngalim twin pikantuk ilham saking gusti Allah kagem majengaken Indonesia)
Nembe sedoyo mboten saged dipercados ananging saged nambahi semangat kito bilih insya Allah bakal Indonesia badhe cepet-cepet nggayuh lintang kemajengan.
Panjenengan saged mriksani bukti bilih bangsa wonton donya meniko ingkang ekonomi nipun positif nalika krisis, naming Cina, India twin Indonesia tigang negari ingkang bakal nguwasani donya, insyaallah.
Pramila monggo ingkang taksih rumaos warga Indonesia, ingkang taksih rumaos mijil wonten Indonesia, ingkang taksih pengen mangertos majengipun Indonesia, kita sareng sareng mlajar ngoyak katilaran wonten bidangipun piyambak-piyambak, supados Indonesia cepet majeng mbesat ing gegana, sumunar kadasta bagaskara,mugiya Gusti Allah tansah paring kekiyatan dumatheng kita sedoyo amin……. !
Mekaten atur kulo mbok bilih anggen kulo matur kathah kelenta-kelentunipun, kirang subasita mboten naming kulo nyadong sih agunging samudra pangaksama
Wassalamualaikum Wr. Wb
NAMI : HABIB AMIN NURROKHMAN
NOMER :
SEKOLAH : SMAN 1 KEBUMEN
Rabu, 07 Oktober 2009
tips KONEKSI KE inTERnET
Sebelum ADSL, kita sudah terlebih dulu mengenal sistem yang disebut dial-up. Sistem ini menggunakan sambungan kabel telepon sebagai jaringan penghubung dengan Internet Service Provider (ISP). Namun dalam penggunaannya, dial-up memiliki beberapa kekurangan. Seperti rendahnya kecepatan dalam mengakses internet, terlebih di jam-jam tertentu yang merupakan waktu sibuk atau office hour. Selain itu, karena menggunakan sambungan telepon, kita tidak bisa menggunakan telepon bila sedang melakukan koneksi internet. Penggunaan sambungan telepon juga memungkinkan tingginya tingkat gangguan atau noise bila sedang menggunakan internet. Kekurangan lainnya adalah sistem penghitungan dial-up yang masih berdasarkan waktu dan masih dirasakan sangat mahal.
ADSL sendiri merupakan salah satu dari beberapa jenis DSL, disamping SDSL, GHDSL, IDSL, VDSL, dan HDSL. DSL merupakan teknologi akses internet menggunakan kabel tembaga, sering disebut juga sebagai teknologi suntikan atau injection technology yang membantu kabel telepon biasa dalam menghantarkan data dalam jumlah besar. DSL sendiri dapat tersedia berkat adanya sebuah perangkat yang disebut DSLAM (DSL Acces Multiplexter). Untuk mencapai tingkat kecepatan yang tinggi, DSL menggunakan sinyal frekuensi hingga 1 MHz. Lain halnya untuk ADSL, sinyal frekuensi yang dipakai hanya berkisar antara 20 KHz sampai 1 MHz. Sementara untuk penggunaan ADSL di Indonesia dengan program Telkom Speedy, kecepatan yang ditawarkan berkisar antara 1024 kbps untuk downstream dan 128 kbps untuk upstream. Kecepatan downstream inilah yang menjadikan ADSL lebih cocok untuk kalangan rumah tangga. Karena pada kalangan rumah tangga umumnya lebih banyak kegiatan menerima, dibandingkan kegiatan mengirim. Seperti mendownload data, gambar, musik, ataupun video.
Perkenalan masyarakat Indonesia sendiri akan ADSL mulai berkembang saat PT.Telkom, yang merupakan perusahaan pengatur jaringan telepon nasional memperkenalkan program yang disebut sebagai Telkom Speedy, yaitu jaringan khusus dari PT.Telkom untuk penggunaan internet. Dengan melakukan pemasaran dan promosi-promosi yang gencar, Telkom Speedy berhasil dipasarkan di kalangan rumah tangga.
[sunting] Cara Penggunaan ADSL
Adapun cara-cara penggunaan ADSL di Indonesia, pertama-tama kita terlebih dahulu harus memiliki perangkat ADSL. Seteleh memiliki perangkat ADSL, kita harus memeriksa keberadaan nomor telepon rumah kita di layanan Telkom Speedy, apakah sudah terdaftar atau belum. Selanjutnya yang harus diperhatikan adalah, seberapa jauh jarak antara gardu Telkom dengan rumah kita. Karena dalam ADSL, jarak sangat berpengaruh pada kecepatan koneksi internet. Setelah memastikan bahwa nomor telepon sudah terdaftar dan jarak sudah diperhitungkan, yang harus kita lakukan selanjutnya adalah pemasangan ADSL pada sambungan telepon.
Untuk menyambungkan antara ADSL dengan line telepon, kita menggunakan sebuah alat yang disebut sebagai Splitter atau pembagi line. Splitter ini berguna untuk menghilangkan gangguan ketika kita menggunakan modem ADSL. Sehingga nantinya kita tetap dapat menggunakan internet dan menjawab telepon secara bersamaan.
[sunting] Ciri ADSL
ADSL sendiri memiliki bermacam-macam jenis dengan kecepatan, jenis router, USB dan perangkat lain yang ada di dalamnya. Misalnya ada yang dapat dipakai untuk dua komputer dengan menggunakan sambungan USB, tapi ada juga yang dapat digunakan untuk empat komputer dengan koneksi LAN Ethernet. Namun ada baiknya dalam memilih modem ADSL, kita memilih menggunakan modem yang memiliki tombol on dan off. Hal ini dimaksudkan supaya kita dapat mengatur penggunaan koneksi sebanyak yang kita butuhkan dan menghemat biaya koneksi yang digunakan. Terlebih di Indonesia masih menggunakan penghitungan waktu atau banyaknya bandwidth yang digunakan.
Hal penting lain yang dimiliki oleh modem ADSL adalah adanya lampu indikator yang berguna mengetahui jalannya proses koneksi yang terjadi. Umumnya lampu yang ada pada modem ADSL adalah lampu PPP, Power, DSL. Ada juga lampu tambahan bila kita menggunakan koneksi Ethernet dan USB.
Dari tiga lampu indikator yang ada pada modem, yang terpenting adalah lampu PPP dan DSL. Di mana lampu DSL menunjukkan koneksi sudah terhubung dengan baik pada line. Sementara lampu PPP menunjukkan adanya arus data ketika seseorang melakukan browsing.
Setelah perangkat lengkap, hal yang penting dalam penggunaan ADSL di Indonesia adalah penggunaan IP modem dan password. Hal ini digunakan untuk melindungi penggunaan layanan bagi konsumen yang diberikan oleh provider. IP yang kita miliki akan menjadi gerbang untuk memasuki jaringan. Jika kita merubah password untuk login, maka kita perlu memasukkan kembali sesuai perubahan yang dilakukan. Bila seluruh proses ini berhasil dilalui, maka selanjutnya kita sudah dapat berkoneksi internet dengan ADSL.
Penggunaan ADSL di Indonesia saat ini tidak hanya berkisar hanya di pulau Jawa saja, tapi juga sudah meluas sampai ke luar Jawa. Seperti Bali dan Sumatera. Walaupun kualitas yang ditawarkan memang masih banyak mengalami masalah, namun adanya ADSL dalam berkoneksi internet sangatlah membantu dibandingkan dengan cara lama yang menggunakan sistem dial-up.
[sunting] Kelebihan ADSL
Pembagian frekuensi menjadi dua, yaitu frekuensi tinggi untuk menghantarkan data, sementara frekuensi rendah untuk menghantarkan suara dan fax.
Bagi pengguna di Indonesia yang memakai program Speedy, penggunaan ADSL membuat kegiatan internet menjadi jauh lebih murah. Sehingga kita dapat berinternet tanpa khawatir dengan tagihan yang membengkak.
[sunting] Kekurangan ADSL
Adapun kualitas dari ADSL saat ini masih memiliki kekurangan.
Seperti sangat berpengaruhnya jarak pada kecepatan pengiriman data. Semakin jauh jarak antara modem dengan PC, atau saluran telepon kita dengan gardu telepon, maka semakin lambat pula kecepatan mengakses internetnya.
Tidak semua software dapat menggunakan modem ADSL. Misalnya Linux atau program lama seperti Windows 98. Cara yang dipakai pun akan lebih rumit dan ada kemungkinan memakan waktu lama. Sehingga pengguna Linux harus menggantinya dengan software yang lebih umum seperti Windows Xp atau Mac.
Adanya load coils yang dipakai untuk memberikan layanan telepon ke daerah-daerah, sementara load coils sendiri adalah peralatan induksi yang menggeser frekuensi pembawa ke atas. Sayangnya load coils menggeser frekuensi suara ke frekuensi yang biasa digunakan DSL. Sehingga mengakibatkan terjadinya interferensi dan ketidak cocokkan jalur untuk ADSL.
Adanya Bridged tap, yaitu bagian kabel yang tidak berada pada jalur yang langsung antara pelanggan dan CO. Bridged tap ini dapat menimbulkan noise yang mengganggu kinerja DSL.
Penggunaan fiber optic pada saluran telepon digital yang dipakai saat ini. Di mana penggunaan fiber optic ini tidak sesuai dengan sistem ADSL yang masih menggunakan saluran analog yaitu kabel tembaga, sehingga akan sulit dalam pengiriman sinyal melalui fiber optic.
ADSL sendiri merupakan salah satu dari beberapa jenis DSL, disamping SDSL, GHDSL, IDSL, VDSL, dan HDSL. DSL merupakan teknologi akses internet menggunakan kabel tembaga, sering disebut juga sebagai teknologi suntikan atau injection technology yang membantu kabel telepon biasa dalam menghantarkan data dalam jumlah besar. DSL sendiri dapat tersedia berkat adanya sebuah perangkat yang disebut DSLAM (DSL Acces Multiplexter). Untuk mencapai tingkat kecepatan yang tinggi, DSL menggunakan sinyal frekuensi hingga 1 MHz. Lain halnya untuk ADSL, sinyal frekuensi yang dipakai hanya berkisar antara 20 KHz sampai 1 MHz. Sementara untuk penggunaan ADSL di Indonesia dengan program Telkom Speedy, kecepatan yang ditawarkan berkisar antara 1024 kbps untuk downstream dan 128 kbps untuk upstream. Kecepatan downstream inilah yang menjadikan ADSL lebih cocok untuk kalangan rumah tangga. Karena pada kalangan rumah tangga umumnya lebih banyak kegiatan menerima, dibandingkan kegiatan mengirim. Seperti mendownload data, gambar, musik, ataupun video.
Perkenalan masyarakat Indonesia sendiri akan ADSL mulai berkembang saat PT.Telkom, yang merupakan perusahaan pengatur jaringan telepon nasional memperkenalkan program yang disebut sebagai Telkom Speedy, yaitu jaringan khusus dari PT.Telkom untuk penggunaan internet. Dengan melakukan pemasaran dan promosi-promosi yang gencar, Telkom Speedy berhasil dipasarkan di kalangan rumah tangga.
[sunting] Cara Penggunaan ADSL
Adapun cara-cara penggunaan ADSL di Indonesia, pertama-tama kita terlebih dahulu harus memiliki perangkat ADSL. Seteleh memiliki perangkat ADSL, kita harus memeriksa keberadaan nomor telepon rumah kita di layanan Telkom Speedy, apakah sudah terdaftar atau belum. Selanjutnya yang harus diperhatikan adalah, seberapa jauh jarak antara gardu Telkom dengan rumah kita. Karena dalam ADSL, jarak sangat berpengaruh pada kecepatan koneksi internet. Setelah memastikan bahwa nomor telepon sudah terdaftar dan jarak sudah diperhitungkan, yang harus kita lakukan selanjutnya adalah pemasangan ADSL pada sambungan telepon.
Untuk menyambungkan antara ADSL dengan line telepon, kita menggunakan sebuah alat yang disebut sebagai Splitter atau pembagi line. Splitter ini berguna untuk menghilangkan gangguan ketika kita menggunakan modem ADSL. Sehingga nantinya kita tetap dapat menggunakan internet dan menjawab telepon secara bersamaan.
[sunting] Ciri ADSL
ADSL sendiri memiliki bermacam-macam jenis dengan kecepatan, jenis router, USB dan perangkat lain yang ada di dalamnya. Misalnya ada yang dapat dipakai untuk dua komputer dengan menggunakan sambungan USB, tapi ada juga yang dapat digunakan untuk empat komputer dengan koneksi LAN Ethernet. Namun ada baiknya dalam memilih modem ADSL, kita memilih menggunakan modem yang memiliki tombol on dan off. Hal ini dimaksudkan supaya kita dapat mengatur penggunaan koneksi sebanyak yang kita butuhkan dan menghemat biaya koneksi yang digunakan. Terlebih di Indonesia masih menggunakan penghitungan waktu atau banyaknya bandwidth yang digunakan.
Hal penting lain yang dimiliki oleh modem ADSL adalah adanya lampu indikator yang berguna mengetahui jalannya proses koneksi yang terjadi. Umumnya lampu yang ada pada modem ADSL adalah lampu PPP, Power, DSL. Ada juga lampu tambahan bila kita menggunakan koneksi Ethernet dan USB.
Dari tiga lampu indikator yang ada pada modem, yang terpenting adalah lampu PPP dan DSL. Di mana lampu DSL menunjukkan koneksi sudah terhubung dengan baik pada line. Sementara lampu PPP menunjukkan adanya arus data ketika seseorang melakukan browsing.
Setelah perangkat lengkap, hal yang penting dalam penggunaan ADSL di Indonesia adalah penggunaan IP modem dan password. Hal ini digunakan untuk melindungi penggunaan layanan bagi konsumen yang diberikan oleh provider. IP yang kita miliki akan menjadi gerbang untuk memasuki jaringan. Jika kita merubah password untuk login, maka kita perlu memasukkan kembali sesuai perubahan yang dilakukan. Bila seluruh proses ini berhasil dilalui, maka selanjutnya kita sudah dapat berkoneksi internet dengan ADSL.
Penggunaan ADSL di Indonesia saat ini tidak hanya berkisar hanya di pulau Jawa saja, tapi juga sudah meluas sampai ke luar Jawa. Seperti Bali dan Sumatera. Walaupun kualitas yang ditawarkan memang masih banyak mengalami masalah, namun adanya ADSL dalam berkoneksi internet sangatlah membantu dibandingkan dengan cara lama yang menggunakan sistem dial-up.
[sunting] Kelebihan ADSL
Pembagian frekuensi menjadi dua, yaitu frekuensi tinggi untuk menghantarkan data, sementara frekuensi rendah untuk menghantarkan suara dan fax.
Bagi pengguna di Indonesia yang memakai program Speedy, penggunaan ADSL membuat kegiatan internet menjadi jauh lebih murah. Sehingga kita dapat berinternet tanpa khawatir dengan tagihan yang membengkak.
[sunting] Kekurangan ADSL
Adapun kualitas dari ADSL saat ini masih memiliki kekurangan.
Seperti sangat berpengaruhnya jarak pada kecepatan pengiriman data. Semakin jauh jarak antara modem dengan PC, atau saluran telepon kita dengan gardu telepon, maka semakin lambat pula kecepatan mengakses internetnya.
Tidak semua software dapat menggunakan modem ADSL. Misalnya Linux atau program lama seperti Windows 98. Cara yang dipakai pun akan lebih rumit dan ada kemungkinan memakan waktu lama. Sehingga pengguna Linux harus menggantinya dengan software yang lebih umum seperti Windows Xp atau Mac.
Adanya load coils yang dipakai untuk memberikan layanan telepon ke daerah-daerah, sementara load coils sendiri adalah peralatan induksi yang menggeser frekuensi pembawa ke atas. Sayangnya load coils menggeser frekuensi suara ke frekuensi yang biasa digunakan DSL. Sehingga mengakibatkan terjadinya interferensi dan ketidak cocokkan jalur untuk ADSL.
Adanya Bridged tap, yaitu bagian kabel yang tidak berada pada jalur yang langsung antara pelanggan dan CO. Bridged tap ini dapat menimbulkan noise yang mengganggu kinerja DSL.
Penggunaan fiber optic pada saluran telepon digital yang dipakai saat ini. Di mana penggunaan fiber optic ini tidak sesuai dengan sistem ADSL yang masih menggunakan saluran analog yaitu kabel tembaga, sehingga akan sulit dalam pengiriman sinyal melalui fiber optic.
DAFTAR ISTILAH INTERNET
Terjemahan istilah-istilah internet dan komputer seringkali menyisakan kesulitan sendiri bagi para ahli bahasa dikarenakan ilmu komputer dan internet merupakan teknologi baru yang terus menerus berkembang dan menciptakan istilah-istilah baru yang sebelumnya tidak pernah dikenal dalam ilmu linguistik. Oleh karena itu tidak jarang terjemahan langsung suatu istilah terasa janggal untuk diucapkan maupun ditulis. Sebagai contoh istilah cookie terasa janggal bila diterjemahkan menjadi 'roti' dalam bahasa Indonesia. Penerjemah-penerjemah harus berusaha sesetia mungkin dengan makna aslinya dengan tidak membuat padanan istilah yang tidak akan dipakai oleh pengguna-pengguna yang terbiasa dengan istilah di dalam bahasa lain.
Banyak dari istilah-istilah internet dan komputer yang memiliki sejarah panjang yang membuat makna kata sesungguhnya kabur, sebagai contoh adalah nama-nama merek terkenal yang seringkali mengambil dari kosakata bahasa di mana perusahaan tersebut berada. Dengan demikian, istilah-istilah yang sudah bercampur dengan kebudayaan dan sejarah suatu bangsa akan semakin sulit diterjemahkan ke dalam budaya yang sama sekali berlainan dan tidak memiliki sejarah internet dan komputer yang sama panjangnya. Sebagai contoh dalam hal ini adalah istilah desktop sama sekali tidak ada hubungannya dengan 'meja' ataupun 'permukaan' di dalam bahasa Indonesia.
Perhatikan bahwa tidak semua istilah dalam artikel ini merupakan istilah resmi seperti yang ditetapkan pemerintah Indonesia.
[sunting] Istilah internet
attachment = lampiran
bandwidth = lebar pita
broadband = pita lebar, jalur lebar
browser = peramban, penjelajah
bulletin board = papan buletin
chat = obrol, obrolan, rumpi
crash = bertabrakan (biasa untuk perangkat lunak/keras bermasalah)
collission = tabrakan data
connection = sambungan
copy = salin, kopi, ganda
cut = potong
cyberspace = dunia maya
database = pangkalan data, basis data
delete/del = hapus
domain = ranah
download = ambil data, unduh, muat turun
edit = sunting, ubah
e-mail = imel, ratel / surel / surat-e (surat elektronik), posel (pos elektronik), surat digital
forward/fwd (e-mail) = terusan
homepage = laman
hosting = hosting
interferensi = gangguan signal (berkaitan dengan signal wireless)
install = pasang
interface = antarmuka
keyword = kata kunci
lag = lambat
link = taut, kait, pautan, pranala
load = muat
login / log in / log on / logon = log masuk, masuk log, lihat sign in
logout / log out / log off / logoff = log keluar, keluar log, lihat sign out
network = jaringan
newsgroup = kelompok warta, kelompok diskusi
mailing list = milis, senarai, forum ratel
network = jaringan
networking = jejaring
off line = tidak terhubung, terputus, luring (luar jaringan)
online / on line = terhubung, tersambung, daring (dalam jaringan)
passphrase = frase sandi, kalimat sandi
password = kata sandi
paste = tempel, rekatkan
preview = pratonton, pratilik, pratayang
internet service provider = penyelenggara jasa internet
save = simpan
scan = pindai
server = peladen
sign in / signin / sign on = catat masuk, lihat login
sign out / sign off = catat keluar, lihat logout
surfing = berselancar, selancar maya
update = pemutakhiran, pembaruan
upload = unggah, muat naik
username = nama pengguna
virtual reality = realitas maya
webpage = halaman web
website = situs web
wireless = nirkabel
[sunting] Istilah lain
japri (jalur pribadi) biasanya istilah ini muncul di forum umum seperti milis atau web forum, kata japri digunakan oleh seseorang yang menghendaki komunikasi dilaksakanan melalui jalur pribadi, biasanya mengacu pada media email.
jalum atau jarum (jalur umum)
jambat (jalur lambat)
jamban (jalur lamban)
jambat dapat dimengerti sebagai "tarik".
Banyak dari istilah-istilah internet dan komputer yang memiliki sejarah panjang yang membuat makna kata sesungguhnya kabur, sebagai contoh adalah nama-nama merek terkenal yang seringkali mengambil dari kosakata bahasa di mana perusahaan tersebut berada. Dengan demikian, istilah-istilah yang sudah bercampur dengan kebudayaan dan sejarah suatu bangsa akan semakin sulit diterjemahkan ke dalam budaya yang sama sekali berlainan dan tidak memiliki sejarah internet dan komputer yang sama panjangnya. Sebagai contoh dalam hal ini adalah istilah desktop sama sekali tidak ada hubungannya dengan 'meja' ataupun 'permukaan' di dalam bahasa Indonesia.
Perhatikan bahwa tidak semua istilah dalam artikel ini merupakan istilah resmi seperti yang ditetapkan pemerintah Indonesia.
[sunting] Istilah internet
attachment = lampiran
bandwidth = lebar pita
broadband = pita lebar, jalur lebar
browser = peramban, penjelajah
bulletin board = papan buletin
chat = obrol, obrolan, rumpi
crash = bertabrakan (biasa untuk perangkat lunak/keras bermasalah)
collission = tabrakan data
connection = sambungan
copy = salin, kopi, ganda
cut = potong
cyberspace = dunia maya
database = pangkalan data, basis data
delete/del = hapus
domain = ranah
download = ambil data, unduh, muat turun
edit = sunting, ubah
e-mail = imel, ratel / surel / surat-e (surat elektronik), posel (pos elektronik), surat digital
forward/fwd (e-mail) = terusan
homepage = laman
hosting = hosting
interferensi = gangguan signal (berkaitan dengan signal wireless)
install = pasang
interface = antarmuka
keyword = kata kunci
lag = lambat
link = taut, kait, pautan, pranala
load = muat
login / log in / log on / logon = log masuk, masuk log, lihat sign in
logout / log out / log off / logoff = log keluar, keluar log, lihat sign out
network = jaringan
newsgroup = kelompok warta, kelompok diskusi
mailing list = milis, senarai, forum ratel
network = jaringan
networking = jejaring
off line = tidak terhubung, terputus, luring (luar jaringan)
online / on line = terhubung, tersambung, daring (dalam jaringan)
passphrase = frase sandi, kalimat sandi
password = kata sandi
paste = tempel, rekatkan
preview = pratonton, pratilik, pratayang
internet service provider = penyelenggara jasa internet
save = simpan
scan = pindai
server = peladen
sign in / signin / sign on = catat masuk, lihat login
sign out / sign off = catat keluar, lihat logout
surfing = berselancar, selancar maya
update = pemutakhiran, pembaruan
upload = unggah, muat naik
username = nama pengguna
virtual reality = realitas maya
webpage = halaman web
website = situs web
wireless = nirkabel
[sunting] Istilah lain
japri (jalur pribadi) biasanya istilah ini muncul di forum umum seperti milis atau web forum, kata japri digunakan oleh seseorang yang menghendaki komunikasi dilaksakanan melalui jalur pribadi, biasanya mengacu pada media email.
jalum atau jarum (jalur umum)
jambat (jalur lambat)
jamban (jalur lamban)
jambat dapat dimengerti sebagai "tarik".
Jargon Indah Untuk Agenda Busuk(menyikapi ideologi TRANSNASIONAL
Jargon Indah Untuk Agenda Busuk
1 Oktober 2009 16:18:05
Oleh: Agus Maftuh Abegebriel
Judul di atas adalah terjemah bebas dari statemen Khalifah Ali bin Abu Thalib ketika menghadapi demonstran yang menuntut penerapan hukum Allah “La hukma illa lillah” (Tidak ada hukum kecuali hukum Allah) dan menolak putusan hukum Ali karena dinilai sebagai produk manusia. Demonstrasi tuntutan penerapan hukum Allah atau Islamic Law Enforcement (Tathbîqus syari’ah) dijawab Ali dengan pernyataan “Kalimatu haqqin yurâdu bihâ bâthilun” (kata indah tetapi dengan tujuan yang sesat).
Warning Sahabat Ali yang ditulis oleh Imam Muslim dalam Kitab Sahihnya tersebut juga bisa ditemukan dalam khazanah keilmuan Islam. Salah satunya adalah ensiklopedi hadis berjudul “Kanzul ummâl fi sunanil aqwâl wal af’âl” karya Alaudin al-Hindy dengan penambahan statemen bahwa para demonstran yang mengusung jargon indah tersebut adalah para “pengkhianat besar” (al-Khayyânun).
Statemen pemuda yang pertama kali masuk Islam ini, merupakan sikap membangun kewaspadaan agar umat Islam tidak terjebak dengan slogan-slogan yang nampaknya “indah” namun dijadikan alat untuk menebarkan tindak kekerasan. Ali memperingatkan: jangan melakukan kejahatan kemanusiaan dengan bungkus “Atas Nama Tuhan”. Akhirnya sejarah juga mencatat bahwa Ali terbunuh oleh para demonstran dengan mengatasnamakan “penerapan Ayat Tuhan”.
Fenomena merebaknya jargon “Isy Kariman au Mut Syahidan” (Hidup mulia atau mati syahid) juga perlu dicermati secara kritis. Penulis selama 28 tahun belajar studi Al-Qur’an dan Al-Hadis sejak di pesantren sampai sekarang mengampu mata kuliah tersebut, tidak pernah menjumpai redaksi tersebut dalam kitab-kitab standar keilmuan. Secara akademis statemen ini tidak perlu dianalisa, ditafsirkan apalagi diuji kesahihannya, karena statemen ini bukanlah teks suci keagamaan, bukan perkataan Sahabat Nabi dan hanya muncul dalam selebaran-selebaran pendorong mati syahid untuk Dying for Win. Doktrin tersebut juga tidak jelas siapa yang pertama kali mengucapkannya, dan tidaklah salah kalau penulis menyimpulkan bahwa slogan tersebut sangat tidak akademis.
Memang ada statemen klasik yang mirip dengan jargon tersebut, yaitu “Isy Kariman wa Mut Kariman” (hiduplah sebagai orang yang mulia dan matilah juga sebagai orang yang mulia) yang diucapkan Asma’ binti Abu Bakar kepada anaknya, Abdullah bin Zubair. Secara epistemologis, statemen ini dapat didiskusikan dan dianalisa latar belakang historis dan sosiologisnya. Pesan Seorang Ibu tersebut bisa dibaca dalam karya-karya sejarah klasik seperti Tarikh Dimisyqa karya Ibnu Asakir dan juga Tahzîb al-Asma’ wa al-Lughat karya Al-Imam Muhyiddin an-Nawawi yang penulis pernah menziarahi makamnya di ‘Nawa”, selatan kota Damaskus Syria.
Pesan Asma’ ini sangat berbeda dengan jargon “Isy Kariman au Mut Syahidan” baik redaksional maupun setting sejarahnya. Pesan Asma’ mengarah kepada tujuan hidup mulia dan mati juga mulia tanpa adanya opsi, sementara jargon penambah energi militansi tersebut menggiring orang untuk memilih satu di antara dua opsi yaitu: hidup mulia atau mati syahid dengan pemakaian kata sambung “au” yang menurut gramatikal Arab untuk “takhyîr” (pilihan).
Struggle of Power Abdullah bin Zubair versus Yazid bin Muawiyah inilah yang mendorong Asma’ mengeluarkan pesan penyemangat tersebut kepada anaknya dengan penambahan : Lâ yal’abanna bika shibyânu Bani Umayyah” (Jangan sekali-kali anak-anak Bani Umayyah ini mempermainkan dirimu).
Pada sisi lain, ada Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ahmad: “ilbas jadidan wa Isy Hamidan wa Mut Syahidan” (pakailah baju yang baru, hiduplah yang terpuji dan matilah sebagai syahid). Historisitasnya, Nabi bertemu Ibnu Umar dan bertanya: Bajumu baru atau dilaundry? Ibnu Umar menjawab: Bukan baju baru tapi baju lama yang dilaundry. Akhirnya Nabi mengeluarkan sabdanya tersebut yang menurut Imam As-Sindy merupakan doa untuk Ibnu Umar agar mendapatkan rizki yang banyak, bisa hidup bahagia dan meninggal sebagai syahid.
Jika pernyataan Nabi ini difahami secara kaku (rigid) dan parsial serta dilepaskan dari historisitas isi/matan hadis (tawârikhul mutun), maka para penebar teror akan menjadikan sabda ini sebagai justifikasi tindak kekerasan.
Ketika penulis di Mesir untuk berguru kepada Prof. Hassan Hanafi dan Gamal al-Banna pada tahun 2005, bertepatan dengan pemilu legislatif negeri pyramid tersebut, penulis menyaksikan baliho-baliho besar terpampang di sepanjang jalan kota Kairo. Political Languages, bahasa-bahasa politik yang tertulis di baliho tersebut sangat beragam dan secara khusus penulis memperhatikan banyaknya baliho yang mengatasnamakan agama untuk tujuan politik. Jargon seperti “Al-Islâm huwa al-hall” (Islam adalah solusi), Al-Jihâd Sabilunâ (jihad adalah jalan kami), li Thatbiqis Syari’ah (untuk menegakkan syariah) menjadi menu marketing kekuasaan. Yang lebih vulgar adalah baliho yang mencantumkan lambang Al-Ikhwan al-Muslimun yaitu Gambar Al-Qur’an dengan dua bilah pedang di bawahnya. Sejarah juga mencatat bahwa karya-karya kekerasan di Mesir sering melibatkan para pengusung jargon tersebut, mulai IM (al-Ikhwan al-Muslimun), al-Jama’ah al-Islamiyyah serta Jama’ah al-Jihad.
Slogan kekerasan dengan bungkus agama seperti Al-Islâm huwa al-Qur’an wa as-Saif (Islam adalah al-Qur’an dan pedang), Al-Islâm huwa as-shalât wa al-qitâl(Islam adalah Shalat dan Perang) bisa ditemukan dalam dokumen-dokumen yang menjadi pegangan para teroris. Salah satunya adalah dokumen “highly secret” yang bertitelkan “Durûs Askariyyah fî Jihâd at-Thawâghîth” (Training Militer untuk Memerangi Penguasa thaghut/ tidak memakai hukum Tuhan) setebal 180 halaman dan berisi 18 training pokok untuk para operator Al-Qa’idah.
Cover dokumen tersebut bergambar bola dunia dengan sebilah pedang panjang yang menusuk peta dunia dengan ujungnya berlumuran darah. Di pojok kanan juga tertulis “Silsilah Askariyyah; I’lânul Jihâd ala Thawâghîth al-Bilâd” (Seri Militer: Deklarasi Perang Terhadap Negara-negara thaghut).
Dokumen ini diawali dengan statemen ideologi kekerasan yang merupakan satu-satunya cara untuk menggapai tujuan politik Al-Qa’idah yaitu berdirinya “Islamic Government” di muka bumi. Statemen tsb berbunyi “Pemerintahan Islam tidak pernah dan tidak akan pernah tegak berdiri dengan cara diplomasi damai. Akan tetapi harus dengan pena dan senjata, dengan kata dan peluru. Kami tidak butuh dialog model Plato, Aristoteles dan Socrates. Kami hanya membutuhkan diplomasi mesin perang dan dialog bom”.
Negara Thaghut dalam persepsi Al-Qa’idah dan juga semua jejaring kekerasan termasuk Al-Jama’ah Al-Islamiyyah, adalah semua negara yang tidak memperjuangkan Islamic State dan Khilafah Global meski penduduknya beragama Islam.
Berdasarkan main idea ini, sehari setelah penemuan bahan peledak di Bekasi dan ditemukannya dokumen rencana pembunuhan Presiden SBY, penulis diwawancarai ‘live” oleh stasiun SBS (Special Broadcasting Service) Sydney Australia tentang rencana teroris dalam pembunuhan Presiden SBY. Penulis menjawab, bahwa hal itu sangat dimungkinkan karena SBY adalah seorang Presiden yang selalu membawa Negara Indonesia dalam koridor PANCASILA, dan di mata jejaring penebar teror, Pancasila dan juga sistem demokrasi adalah sesuatu yang najis. Penguasa pendukung Pancasila dan Demokrasi adalah penguasa thaghut yang menurut dokumen Al-Qa’idah tersebut harus diperangi.
Kampanye “Spreading peace for all” dan “jihad untuk kemanusiaan” harus dijadikan prioritas pemerintah NKRI bersama para ulama dan kaum intelektual untuk “Ta’kidul Islâm ka Rahmatin wa Salâmin Lil âlamin fi mujtama’in ta’addudiyyin” (Mempertegas Islam sebagai rahmat dan motor perdamaian bagi seluruh alam dalam bingkai masyarakat yang plural).
Sebuah baliho besar di hotel Hilton, depan Masjidil haram Makkah al-Mukarramah yang penulis saksikan pada penghujung Ramadlan 2004, menjadi inspirasi besar untuk tulisan ini. Baliho tersebut bergambarkan Al-Qur’an dan kitab Hadis yang di bawahnya tertulis pesan indah untuk kemanusiaan “Lâ, lil-Irhâb” (Al-Qur’an dan As-Sunnah bukan untuk menebar teror). Karena realitasnya, terorisme adalah threat of religion (musuh agama) dan sekaligus threat to religion (mengancam agama).
Penulis adalah pengamat ideologi transnasional.
1 Oktober 2009 16:18:05
Oleh: Agus Maftuh Abegebriel
Judul di atas adalah terjemah bebas dari statemen Khalifah Ali bin Abu Thalib ketika menghadapi demonstran yang menuntut penerapan hukum Allah “La hukma illa lillah” (Tidak ada hukum kecuali hukum Allah) dan menolak putusan hukum Ali karena dinilai sebagai produk manusia. Demonstrasi tuntutan penerapan hukum Allah atau Islamic Law Enforcement (Tathbîqus syari’ah) dijawab Ali dengan pernyataan “Kalimatu haqqin yurâdu bihâ bâthilun” (kata indah tetapi dengan tujuan yang sesat).
Warning Sahabat Ali yang ditulis oleh Imam Muslim dalam Kitab Sahihnya tersebut juga bisa ditemukan dalam khazanah keilmuan Islam. Salah satunya adalah ensiklopedi hadis berjudul “Kanzul ummâl fi sunanil aqwâl wal af’âl” karya Alaudin al-Hindy dengan penambahan statemen bahwa para demonstran yang mengusung jargon indah tersebut adalah para “pengkhianat besar” (al-Khayyânun).
Statemen pemuda yang pertama kali masuk Islam ini, merupakan sikap membangun kewaspadaan agar umat Islam tidak terjebak dengan slogan-slogan yang nampaknya “indah” namun dijadikan alat untuk menebarkan tindak kekerasan. Ali memperingatkan: jangan melakukan kejahatan kemanusiaan dengan bungkus “Atas Nama Tuhan”. Akhirnya sejarah juga mencatat bahwa Ali terbunuh oleh para demonstran dengan mengatasnamakan “penerapan Ayat Tuhan”.
Fenomena merebaknya jargon “Isy Kariman au Mut Syahidan” (Hidup mulia atau mati syahid) juga perlu dicermati secara kritis. Penulis selama 28 tahun belajar studi Al-Qur’an dan Al-Hadis sejak di pesantren sampai sekarang mengampu mata kuliah tersebut, tidak pernah menjumpai redaksi tersebut dalam kitab-kitab standar keilmuan. Secara akademis statemen ini tidak perlu dianalisa, ditafsirkan apalagi diuji kesahihannya, karena statemen ini bukanlah teks suci keagamaan, bukan perkataan Sahabat Nabi dan hanya muncul dalam selebaran-selebaran pendorong mati syahid untuk Dying for Win. Doktrin tersebut juga tidak jelas siapa yang pertama kali mengucapkannya, dan tidaklah salah kalau penulis menyimpulkan bahwa slogan tersebut sangat tidak akademis.
Memang ada statemen klasik yang mirip dengan jargon tersebut, yaitu “Isy Kariman wa Mut Kariman” (hiduplah sebagai orang yang mulia dan matilah juga sebagai orang yang mulia) yang diucapkan Asma’ binti Abu Bakar kepada anaknya, Abdullah bin Zubair. Secara epistemologis, statemen ini dapat didiskusikan dan dianalisa latar belakang historis dan sosiologisnya. Pesan Seorang Ibu tersebut bisa dibaca dalam karya-karya sejarah klasik seperti Tarikh Dimisyqa karya Ibnu Asakir dan juga Tahzîb al-Asma’ wa al-Lughat karya Al-Imam Muhyiddin an-Nawawi yang penulis pernah menziarahi makamnya di ‘Nawa”, selatan kota Damaskus Syria.
Pesan Asma’ ini sangat berbeda dengan jargon “Isy Kariman au Mut Syahidan” baik redaksional maupun setting sejarahnya. Pesan Asma’ mengarah kepada tujuan hidup mulia dan mati juga mulia tanpa adanya opsi, sementara jargon penambah energi militansi tersebut menggiring orang untuk memilih satu di antara dua opsi yaitu: hidup mulia atau mati syahid dengan pemakaian kata sambung “au” yang menurut gramatikal Arab untuk “takhyîr” (pilihan).
Struggle of Power Abdullah bin Zubair versus Yazid bin Muawiyah inilah yang mendorong Asma’ mengeluarkan pesan penyemangat tersebut kepada anaknya dengan penambahan : Lâ yal’abanna bika shibyânu Bani Umayyah” (Jangan sekali-kali anak-anak Bani Umayyah ini mempermainkan dirimu).
Pada sisi lain, ada Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ahmad: “ilbas jadidan wa Isy Hamidan wa Mut Syahidan” (pakailah baju yang baru, hiduplah yang terpuji dan matilah sebagai syahid). Historisitasnya, Nabi bertemu Ibnu Umar dan bertanya: Bajumu baru atau dilaundry? Ibnu Umar menjawab: Bukan baju baru tapi baju lama yang dilaundry. Akhirnya Nabi mengeluarkan sabdanya tersebut yang menurut Imam As-Sindy merupakan doa untuk Ibnu Umar agar mendapatkan rizki yang banyak, bisa hidup bahagia dan meninggal sebagai syahid.
Jika pernyataan Nabi ini difahami secara kaku (rigid) dan parsial serta dilepaskan dari historisitas isi/matan hadis (tawârikhul mutun), maka para penebar teror akan menjadikan sabda ini sebagai justifikasi tindak kekerasan.
Ketika penulis di Mesir untuk berguru kepada Prof. Hassan Hanafi dan Gamal al-Banna pada tahun 2005, bertepatan dengan pemilu legislatif negeri pyramid tersebut, penulis menyaksikan baliho-baliho besar terpampang di sepanjang jalan kota Kairo. Political Languages, bahasa-bahasa politik yang tertulis di baliho tersebut sangat beragam dan secara khusus penulis memperhatikan banyaknya baliho yang mengatasnamakan agama untuk tujuan politik. Jargon seperti “Al-Islâm huwa al-hall” (Islam adalah solusi), Al-Jihâd Sabilunâ (jihad adalah jalan kami), li Thatbiqis Syari’ah (untuk menegakkan syariah) menjadi menu marketing kekuasaan. Yang lebih vulgar adalah baliho yang mencantumkan lambang Al-Ikhwan al-Muslimun yaitu Gambar Al-Qur’an dengan dua bilah pedang di bawahnya. Sejarah juga mencatat bahwa karya-karya kekerasan di Mesir sering melibatkan para pengusung jargon tersebut, mulai IM (al-Ikhwan al-Muslimun), al-Jama’ah al-Islamiyyah serta Jama’ah al-Jihad.
Slogan kekerasan dengan bungkus agama seperti Al-Islâm huwa al-Qur’an wa as-Saif (Islam adalah al-Qur’an dan pedang), Al-Islâm huwa as-shalât wa al-qitâl(Islam adalah Shalat dan Perang) bisa ditemukan dalam dokumen-dokumen yang menjadi pegangan para teroris. Salah satunya adalah dokumen “highly secret” yang bertitelkan “Durûs Askariyyah fî Jihâd at-Thawâghîth” (Training Militer untuk Memerangi Penguasa thaghut/ tidak memakai hukum Tuhan) setebal 180 halaman dan berisi 18 training pokok untuk para operator Al-Qa’idah.
Cover dokumen tersebut bergambar bola dunia dengan sebilah pedang panjang yang menusuk peta dunia dengan ujungnya berlumuran darah. Di pojok kanan juga tertulis “Silsilah Askariyyah; I’lânul Jihâd ala Thawâghîth al-Bilâd” (Seri Militer: Deklarasi Perang Terhadap Negara-negara thaghut).
Dokumen ini diawali dengan statemen ideologi kekerasan yang merupakan satu-satunya cara untuk menggapai tujuan politik Al-Qa’idah yaitu berdirinya “Islamic Government” di muka bumi. Statemen tsb berbunyi “Pemerintahan Islam tidak pernah dan tidak akan pernah tegak berdiri dengan cara diplomasi damai. Akan tetapi harus dengan pena dan senjata, dengan kata dan peluru. Kami tidak butuh dialog model Plato, Aristoteles dan Socrates. Kami hanya membutuhkan diplomasi mesin perang dan dialog bom”.
Negara Thaghut dalam persepsi Al-Qa’idah dan juga semua jejaring kekerasan termasuk Al-Jama’ah Al-Islamiyyah, adalah semua negara yang tidak memperjuangkan Islamic State dan Khilafah Global meski penduduknya beragama Islam.
Berdasarkan main idea ini, sehari setelah penemuan bahan peledak di Bekasi dan ditemukannya dokumen rencana pembunuhan Presiden SBY, penulis diwawancarai ‘live” oleh stasiun SBS (Special Broadcasting Service) Sydney Australia tentang rencana teroris dalam pembunuhan Presiden SBY. Penulis menjawab, bahwa hal itu sangat dimungkinkan karena SBY adalah seorang Presiden yang selalu membawa Negara Indonesia dalam koridor PANCASILA, dan di mata jejaring penebar teror, Pancasila dan juga sistem demokrasi adalah sesuatu yang najis. Penguasa pendukung Pancasila dan Demokrasi adalah penguasa thaghut yang menurut dokumen Al-Qa’idah tersebut harus diperangi.
Kampanye “Spreading peace for all” dan “jihad untuk kemanusiaan” harus dijadikan prioritas pemerintah NKRI bersama para ulama dan kaum intelektual untuk “Ta’kidul Islâm ka Rahmatin wa Salâmin Lil âlamin fi mujtama’in ta’addudiyyin” (Mempertegas Islam sebagai rahmat dan motor perdamaian bagi seluruh alam dalam bingkai masyarakat yang plural).
Sebuah baliho besar di hotel Hilton, depan Masjidil haram Makkah al-Mukarramah yang penulis saksikan pada penghujung Ramadlan 2004, menjadi inspirasi besar untuk tulisan ini. Baliho tersebut bergambarkan Al-Qur’an dan kitab Hadis yang di bawahnya tertulis pesan indah untuk kemanusiaan “Lâ, lil-Irhâb” (Al-Qur’an dan As-Sunnah bukan untuk menebar teror). Karena realitasnya, terorisme adalah threat of religion (musuh agama) dan sekaligus threat to religion (mengancam agama).
Penulis adalah pengamat ideologi transnasional.
Langganan:
Postingan (Atom)



